Tuesday, March 24, 2009

MARI BERDOA

“Doa itu adalah intinya ibadah”

“Doa itu adalah senjata orang beriman”

“Tiada seorang pun yang berdoa melainkan Allah pasti akan mengabulkan permintaannya atau dihindarkan ia daripada bahaya, atau diampuni sebahagian dosanya selama ia tidak berdoa untuk sesuatu yang menjurus kepada dosa atau untuk memutuskan silatur rahim.”

Selain sabda-sabda di atas, banyak lagi pengajaran dari Nabi Muhammad saw untuk kita yang berhubung kait dengan doa. Misalnya, Jika berdoa, seseorang hendaklah tidak berada dalam keadaan diri penuh dosa, seperti sabda Baginda saw. :

“ Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali sesuatu yang baik. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan orang-orang mu’min sebagaimana Dia memerintahkan para rasul, Dia berfirman: “Wahai para rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan lakukanlah amal baik. Dan Dia telah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami rezkikan padamu. Kemudian Baginda saw menceritakan seorang laki-laki yang telah jauh perjalanannya, berambut kusut penuh dengan debu. Orang itu mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa: “Wahai Tuhan! Wahai Tuhan!, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya juga haram dan ia dikenyangkan dengan yang haram, maka bagaimana mungkin permintaannya akan dikabulkan.” (HR. Muslim)

Talian langsung untuk kontak dengan Allah (doa) seharusnya dimanfaatkan betul, terutamanya dalam usaha perjuangan untuk tertegaknya Islam, untuk mencapai kebahagiaan hidup bagi seluruh alam. Usaha hendaklah terus dilakukan, tetapi jangan lupa mengirinya dengan doa. Allah sentiasa mendengar keluhan hamba-Nya, mendengar harapan dan keinginan mereka, dan kemudian mengabulkan segala permintaannya.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku dan juga beriman kepadaKu) agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Maksud firman Allah S. al Baqarah:186)

Allah bahkan menyuruh kita untuk meminta kepada-Nya apa yang kita mahukan dar-Nya.

“Berdoalah kalian kepada-Ku! Niscaya akan Aku perkenankan permintaanmu.” (Maksud firman Allah, S. al Mu'min:60)

Kadang kita berdoa, berdoa lagi, berdoa lagi, tetapi belum juga dikabulkan doa kita itu. Apa yang patut ialah kita bersangka baik terhadap Allah, yakin Allah Maha Bijaksana, Maha Mengetahui apa yang baik untuk kita dan apa yang tidak, apa yang bermanfaat dan apa yang madarat untuk kita. Jadi serahkan sahaja kepada Allah. Dikabulkan doa secara segera atau secara lambat, itu mengikut kemahuan-Nya, bukan mengikut kemahuan kita. Adakah ia dikabulkan di dunia ini atau di akhirat nanti,juga mengikut kemahuan Allah, bukan mengikut kemahuan kita. Apa pun yang Allah pilihkan untuk kita, semuanya baik belaka, jika Allah kabulkan di akhirat, itu bahkan lebih baik lagi, Cuma manusia tidak mengetahui, kerana selalu ingin yang segera. Maka teruslah berdoa, jangan berputus asa, serahkan kepada Allah bila Dia ingin mengabulkan doa tersebut.

Teruskan berdoa!

Semoga bermanfaat, ilal liqa'

Friday, March 20, 2009

MENCARI KETENANGAN

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas dan diridhai-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Maksud firman Allah S. al Fajr: 27-30)

Perkara-perkara yang belum terjadi, tidak perlu difikir sangat, kerana ia akan membuat jiwa dan fikiran menjadi risau, bukan itu sahaja, bahkan ia boleh menjadi laluan bagi syaitan menghakis dan menggoncangkan iman.

Seperti berangan-angan mengenai keperluan makan minum untuk hari esok, untuk bulan hadapan atau tahun hadapan dll.

Ketahuilah! jika engkau telah berusaha sungguh-sungguh, dan itu baik untukmu, Allah pasti akan menolongmu, sesungguhnya Dia tidak ingkar janji.

Rasulullah saw bersabda: “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Dia akan memberI kalian rezki sebagaimana Allah selalu memberi burung rezki, yang keluar di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dengan perut kenyang. (HR. Tirmizi)

Allah berfirman: “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah maka Dia akan mencukupi keperluannya,” (QS. Al Thalaq:3)

Keyakinan sebegini perlu dalam usaha manusia mendapatkan ketenangan jiwa, ketenangan yang menjadi asas kepada tumbuh suburnya perasaan bahagia dalam hidup, dan semua orang ingin memiliki jiwa yang tenang itu.

Seseorang itu merasa tenang kerana memiliki kebebasan. Ia tidak terbelenggu, kerana ia dekat dengan Tuhannya (Tuhan Yang menghidupkannya, Yang memberinya rezki, Yang mematikannya, yang akan menghisabnya, yang akan membalas segala amalnya, Yang menyediakan surga bagi hamba-hamba-Nya), kerana ia sentiasa menempuh jalan-Nya, dan menerima segala qadar dan ketentuan-Nya. Ia seorang yang merdeka.

Seseorang itu merasa tenang kerana, selain memiliki kebebasan ia juga memiliki kelapangan. Ia lapang hati, jiwa dan fikiran di masa suka, juga di masa duka. di masa lapang dan juga di masa sempit. Lapang ketika mendapat apa yang ia inginkan, juga ketika dihalang dari mendapatkannya.

Ia seorang yang memiliki kemerdekaan dan kelapangan, tanpa ragu, tanpa menyimpang, tanpa terombang-ambing dan tanpa rasa takut.

Rasulullah saw. pernah bersabda: “Katakanlah: “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu jiwa yang tenang bersama-Mu, jiwa yang meyakini pertemuan dengan-Mu, yang ridha atas ketentuan-Mu dan puas atas pemberian-Mu.” (Diriwayatkan oleh al Hafizh ibnu Asakir dalam biografi Rawahah binti Abi Amr al Auza’I dengan sanadnya dari Abu Umamah)

“Fikirkan apa yang mesti engkau perbuat untuk Allah, bukan memikirkan apa yang Dia akan beri untukmu”.

Segala kerisauan dalam jiwa yang timbul dari angan-angan tentang masa hadapan yang belum pasti, boleh diobati dengan beberapa langkah berikut:

1. Banyak mengingti Allah.
2. Istiqamah dalam mengabdi diri kepada Allah.
3. Sedari bahawa Allah mencukupi segala keperluan makhluk.
4. Sedari bahawa dunia adalah persinggahan sementara, akhirat adalah tempat kembali yang abadi.
5. Ingat! Sebagai hamba, kita diciptakan untuk satu tujuan iaitu mengabdi kepada Allah.
6. Berserahlah kepada Allah niscaya Dia akan mencukupi keperluanmu.
7. Jadikan takwa itu pakaian hidup.
8. Usaha itu ibadah, hasil serahkan kepada Allah Yang Maha menentukan rezki, ajal dan baik buruk nasib kita.
9. Jangan kedekut dengan doa kepada Allah.
10.Segala apa yang menimpa kita adalah suratan takdir, iringi dengan kesabaran di sana ada pahala.

Semoga bermanfaat, Ilal liqa’!

Wednesday, March 18, 2009

Agar Tidak Celaka

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat yang sebenar.” (QS. At Tahrim: 8)

Manusia, makhluk istimewa, Allah menciptakannya untuk menjadi khalifah-Nya di atas bumi ini.
Dan lagi, ketika selesai mencipta Adam alaihis salaam, manusia pertama, Allah perintahkan para malaikat bersujud hormat kepadanya.

Tetapi, manusia juga tidak sepi dari dua sifat; salah dan lupa, tidak ma’sum, macam Nabi Muhammad saw. Ertinya, selain istimewa, di segi yang lain manusia juga makhluk lemah.

Oleh itulah Allah menyeru kita manusia, agar sentiasa memohon ampunan dari-Nya, bertaubat kepada-Nya.

Jika berbuat salah, Jangan sekali-kali berputus asa dari rahmat Allah.

“Dan janganlah kamu berputus asa dari (mengharap) rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari (mengharap) rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf:87)

Sifat berputus asa adalah di antara ciri-ciri orang-orang kafir, mereka tidak mempercayai Allah, Tuhan yang memiliki sifat-sifat; Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemberi, Maha Mengampuni, dan lain-lain.

Jika melakukan amal yang baik, jangan juga merasa bangga dengan amal itu, lalu menganggap diri mulia, merasa mendapat jaminan surga. Bukankah ketaatan itu karunia Allah, tanpa karunia itu, bukankah manusia tiada daya upaya. Allah telah memberinya hidayah, memberinya iman, memberinya kekuatan untuk beramal, jadi amal itu pun merupakan karunia dari Allah, dan mesti disyukuri.
Agar tidak kufur nikmat, mohonlah ampunan, bertaubatlah, dan jadilah orang yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah tersebut.

Ketahuilah! Tanda-tanda orang yang celaka adalah sebagai berikut:
1. Setiap kali bertambah ilmu, semakin bertambah pula kesombongannya.
2. Setiap kali bertambah amal, semakin bertambah rasa bangganya terhadap diri sendiri dan memandang rendah orang lain, semangkin bertambah pula sangka baiknya terhadap dirinya.
3. Semangkin meningkat usia, semangkin bertambah tamaknya terhadap dunia.
4. Semakin bertambah harta dan kekayaannya, semakin bertambah sifat kedekutnya.
5. Semakin meningkat kedudukan dan pangkatnya, semakin bertambah pula sikap angkuhnya.

“Di antara tanda-tanda penyakit bangga terhadap amal ialah kurangnya rasa harap akan rahmat Allah ketika menghadapi kegagalan Dan tiadanya sikap syukur kepada Allah ketika mendapat kejayaan.”

Friday, February 20, 2009

PANDUAN MEMELIHARA KETAKWAAN

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Ali Imran :102

Setiap muslim, tentunya telah mengucap “Asyhadu allaa ilaha illallah wa asyhadu annaa Muhammadar rasulullah” Ia mestilah memahami erti ikrar ini dan mampu merealisasikan nilai-nilainya dalam realiti kehidupan. Selain itu ia juga dituntut untuk istiqamah, dalam erti mempertahankan keimanan, dengan memelihara ketaatan baik dalam kehidupan peribadinya, kehidupan berkeluarga, kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sehinggalah ia menemui tuhannya dalam keadaan husnul khatimah.

“Maka tetaplah (istiqomahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(QS 11:112)

ketakwaan, jika tidak dipelihara, akan mengalami penurunan, atau bahkan hilang sama sekali.
Beberapa langkah berikut adalah perlu untuk dapat mempertahankan nilai ketakwaan yang sudah ada dan meningkatkan kualitinya.

Pertama, Muraqabah
Iaitu perasaan seorang hamba bahawa dirinya sentiasa dalam pemerhatian Allah, lalu timbul usaha mendekatkan diri kepada-Nya, mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta memiliki rasa malu dan takut, apabila menjalankan hidup tidak sesuai dengan syariat-Nya.

..... Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Maksud firman Allah dalam Surah al-Hadiid (57) : 4)

Ketika ditanya tentang ihsan, Rasulullah saw. Bersabda: “Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan apabila kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu.” (HR al-Bukhari)

Kedua, Mu’ahadah
Iaitu menyedari akan janji setia untuk sentiasa iltizam terhadap nilai-nilai kebenaran Islam. Setiap muslim telah menyatakan janji tersebut di hadapan Allah SWT.

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (an-Nahl (16) : 91)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (al-Anfaal (8) : 27)

Ketiga, Muhasabah
Iaitu melakukan perhitungan atas segala perbuatannya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Hasyr (59) : 18)

Nabi saw bersabda: “Orang yang cerdik adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk manfaat selepas kematiannya. Adapun orang yang lemah adalah orang yang mengikuti pada hawa nafsu dan berangan-angan pada Allah.” (HR. Ahmad)

Umar bin Khattab ra berkata, “Hisablah dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang ….”

Keempat, Mu’aqabah
Iaitu memberian hukuman kepada diri sendiri atas kelalaian yang dilakukannya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khaththab ra pergi ke kebunnya. Ketika ia pulang, maka didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan Shalat Ashar. Maka beliau berkata, “Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sudah shalat Ashar! Kini, aku menjadikan kebunku sedekah untuk orang-orang miskin.”

Kelima Mujahadah (Optimalisasi)
Iaitu memaksimakan ibadah dengan menjalankan seluruh nilai-nilai Islam dalam kehidupan.

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya…” (al-Hajj (22) : 77-78)

“Rasulullah saw. melaksanakan shalat malam hingga kedua tumitnya bengkak. Aisyah ra. pun bertanya, ‘Mengapa engkau lakukan hal itu, padahal Allah telah menghapuskan segala dosamu?’ Maka, Rasulullah saw. menjawab, ‘Bukankah sudah sepantasnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur.’” (HR. al-Bukhari Muslim)

Semoga Allah beri kita kekuatan untuk terus istiqamah di jalan-Nya. Aamiin

Thursday, February 12, 2009

OBAT HATI

“Sesungguhnya bukanlah mata yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada.” (S. al Hajj:46)

Orang sanggup membelanjakan harta, berapa pun banyaknya, untuk mengobati penyakit yang diderita tubuhnya. Selain penyakit fizikal, ada lagi yang lain, iaitu penyakit hati. Banyak yang tidak menyedari bahawa penyakit yang satu ini lebih berbahaya. Hati yang berpenyakit, melahirkan kekeringan ruhani, kegersangan ukhuwwah, kekerasan perasaan, hasad atau dengki, perselisihan, permusuhan, juga melahirkan perilaku curang dan jahat, melahirkan perbuatan maksiat.

Penderitaan yang timbul dari penyakit fizikal, betapa pun dahsyatnya, akan berakhir dengan kematian tubuh, tetapi penderitaan dari penyakit hati akan berterusan hingga memasuki kehidupan kedua selepas mati, yang dikatakan sebagai kehidupan sebenar.

Penyakit berbahaya yang menimpa para da’ie, aktivis, para ustaz bahkan para ulama ialah menyimpangnya orientasi, motivasi dan tujuan kerja-kerja dakwahnya dari mengharap ridha Allah dan surga-Nya kepada meraih kepuasan dunia dan segala kenikmatannya.

Imam al Gazali pernah ditanya: “Adakah mungkin para ulama saling berselisih? Imam al Gazali menjawab: “Mereka akan berselisih jika memasuki kepentingan dunia mereka.”

Maka, menjaga kesihatan hati dan mengobati hati dari serangan penyakit-penyakitnya mestilah diberi keutamaan.

Obat segala penyakit hati ialah Ikhlas. Memahami hakikat ketuhanan Allah dan mengimani-Nya, kemudian memurnikan seluruh kehidupan hanya untuk-Nya.
Ikhlas juga merupakan buah keimanan dan syarat bagi diterimanya setiap amal.

Dalam himpunan hadis shahihnya, Imam Muslim meriwayatkan, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Saya mendengar Rasulullah saw. Bersabda:
“Sesungguhnya manusia yang pertama dihisab pada Hari Kiamat ialah seorang yang mati syahid. Ia pun didatangkan. Ia diceritakan tentang kenikmatan yang akan diterimanya dan ia pun mengetahui.
Berkata Allah: "Apa yang kamu lakukan di dunia?
Berkata si syahid, “Saya berperang di jalan-Mu sehingga mati syahid.”
Berkata Allah: “Bohong! Kamu berperang supaya dikatakan pemberani dan hal itu telah kamu dapatkan.” Kemudian malaikat diperintahkan untuk membawanya dengan mengheret wajahnya, lalu melemparkannya ke dalam api neraka.
Kemudian didatangkan seorang yang belajar ilmu dan mengajarkan serta membaca al Quran. Ia pun dikenalkan dengan kenikmatan dan ia mengetahuinya.
Ia pun ditanya: “Apa yang kamu lakukan di dunia?”
Ia menjawab: “Saya belajar ilmu dan mengajarkannya, serta membaca al Quran semata-mata kerana Engkau.”
Allah berkata: “Bohong! Kamu belajar ilmu supaya dikatakan manusia bahawa kamu alim dan kamu membaca al Quran supaya kamu disebut Qari’. Semua itu sudah kau dapatkan.
Setelah itu, malaikat pun diperintahkan membawanya dengan mengheret wajahnya dan melemparkannya ke dalam api neraka.
Kemudian didatangkan pula seorang yang diberi kelapangan rezki dan menginfaqkannya dari semua jenis hartanya. Dikenalkan padanya kenikmatan yang akan diperoleh dan dia pun mengetahuinya.
Allah berkata: “Apa yang kamu lakukan di dunia?”
Ia berkata: “Tidak ada jalan yang Engkau cintai agar manusia berinfaq di jalan itu kecuali aku berinfaq di jalan itu kerana-Mu.”
Allah berkata: “Bohong! Kamu melakukannya supaya disebut dermawan dan itu telah kamu dapatkan.” Kemudian malaikat diperintahkan untuk membawanya dengan mengheret wajahnya dan melemparkannya ke dalam neraka.

Kita mohon kepada Allah perlindungan dari bencana penyakit yang berbahaya ini.
“Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya. (Maksud al hadis)
"Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan sekalian alam." (Maksud firman Allah Surah al An'am:162)

Monday, February 9, 2009

CONTOH DARI KEHIDUPAN SAHABAT

Allah telah memberi Sa’id bin Amir al Jumahy hidayah, ia memeluk Islam, kemudian ia buang berhala-berhala yang dipujanya selama ini. lalu ia berpidato di hadapan orang ramai: “Alangkah bodohnya orang Quraisy menyembah berhala.”
Ia ikut berhijrah ke Madinah, di sana ia mendampingi Rasulullah saw, ikut berjihad bersama baginda, dalam peperangan Khaibar dan dalam peperangan-peperangan berikutnya. Setelah kewafatan Nabi saw, Said menjadi pembela setia Khalifah Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma.
Said merupakan peribadi yang lebih mengutamakan keridaan Allah dan pahala-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad. Ia telah membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia.
Ketika Umar diangkat menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar, Sa’id mendatanginya, bukan untuk meminta jawatan, tetapi untuk memberinya nasihat,:
“Hai Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Dan Jangan engkau takut kepada manusia dalam menjalankan agama Allah!. Jangan berkata yang menyalahi perbuatan. Kerana sebaik-baik perkataan ialah yang dibuktikan dengan perbuatan.
“Hai Umar! Tunjukkanlah seluruh perhatian anda kepada urusan kaum muslimin, baik yang jauh mahupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang anda dan keluarga anda sukai. Jauhkan dari mereka apa-apa yang anda dan keluarga anda tidak sukai. Arahkan semua karunia Allah kepada yang baik. Jangan ambil peduli cacian orang-orang yang suka mencaci!”
“Siapakah yang sanggup melaksanakansemua itu hai Sa’id?” Tanya Khalifah Umar.
“Tentu orang seperti anda! Bukankah anda telah diberi amanah oleh Allah untuk memerintah umat Muhammad ini? Bukankah di antara anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?” Jawab Sa’id meyakinkan.
Pada suatu ketika Khalifah Umar memanggil Sa’id dan berkata: “Hai Sa’id! Engkau aku angkat menjadi Gabenor di daerah Hims.”
Wahai Umar! Saya memohon kepada Allah agar anda tidak mendorong saya cenderung kepada dunia” Jawab Sa’id.
Umar tidak melayan permintaan Sa’id, ia pun dilantik menjadi Gabernor. Setelah perlantikan, Umar bertanya: “Berapa gaji yang engkau inginkan?
“Apa yang akan saya perbuat dengan gaji itu, wahai Amirul mu’minin? Bukankah apa yang saya dapat dari Baitul Mal sudah mencukupi? Jawab Sa’id.
Setelah beberapa masa berlalu, Umar memanggil beberapa orang penduduk Hims yang telah diberi tugas mengawasi jalannya pemerintahan, untuk memberi laporan. Ternyata nama Sa’id bin Amir termasuk dalam senarai fakir miskin yang perlu diberi bantuan. Seringkali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda orang memasak.
Umar sedih mengenangkan keadaan Sa’id, ia pun mengirimkan untuknya wang untuk meringankan masalah rumahtangganya. Setelah mendapat kiriman dari khalifah berupa bungkusan berisi wang, ia pun terkejut seraya berkata: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” seakan musibah besar telah menimpa dirinya.
Isterinya bertanya: “Apa yang terjadi hai Sa’id?, Meninggalkah Amirul Mu’minin?
“Bahkan lebih besar dari itu!” Jawab Sa’id sedih.
“Apakah tentera muslimin kalah berperang?” Tanya isterinya pula
“Jauh lebih besar dari itu!” Jawab Sa’id tetap sedih.
“Apa pula gerangan yang lebih besar dari itu?” Tanya isterinya tak sabar.
“Dunia telah datang untuk merusak akhiratKu. Bencana telah menyusup ke rumah tangga kita.” Jawab Sa’id tegas.
“Bebaskan dirimu daripadanya!” kata isteri Sa’id memberi semangat, tanpa mengetahui perihal adanya bungkusan wang dari Khalifah untuk suaminya.
“Mahukah engkau menolongku berbuat demikian?” Tanya Sa’id.
“Tentu..!” Jawab isterinya bersemangat.
Maka Sa’id mengambil bungkusan wang itu, lalu disuruhnya isterinya membahagi-bahagikannya kepada fakir miskin.

Tuesday, February 3, 2009

ISTIQAMAH

Dari Abu Amr Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafy ra. Berkata, Aku berkata “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku suatu perkataan tentang Islam, yang tidak akan saya tanyakan kepada seorang pun selain engkau.’ Beliau bersabda, “katakanlah: Amantu Billah (Aku beriman kepada Allah) lalu istiqamahlah.” (RH.Muslim)

Al kisah, Khubaib bin ‘Ady seorang sahabat Nabi saw, ia ditangkap oleh Kafir Quraisy lalu dijatuhi hukuman mati tanpa sebab. Sebelum dibunuh, ia dipertontonkan di halayak ramai dengan tangannya terbelenggu, sementara kaum wanita, anak-anak dan pemuda dikerahkan untuk menggiring Khubaib ke tiang Salib di tengah tanah lapang dan menyaksikan pelaksanaan hukuman bunuh. Mereka ingin membalas dendam terhadap Nabi Muhammad saw dan melampiaskan rasa sakit hati atas kekalahan mereka dalam perang Badar.

Khubaib berkata mantap: “Jika kalian izinkan, saya ingin shalat dua rakaat sebelum saya kalian bunuh.” Permintaannya dikabulkan, ia pun menghadap Kiblat dan dengan tenang ia shalat dua rakaat.

Setelah shalat, ia memandang para pemimpin Quraisy seraya berkata: “Demi Allah! Seandainya kalian tidak akan menuduhku melama-lamakan shalat untuk memperlambat waktu kerana takut mati, niscaya saya akan shalat lebih lama lagi.”

Mendengar itu para pemimpin Quraisy naik darah bagaikan hendak mencincang-cincang tubuh Khubaib hidup-hidup. Mereka berkata: “Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?

Khubaib menjawab mantap: “Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri dan anak-anak saya, sementara Muhammad tertusuk duri…”.

Bunuh dia…!, bunuh dia…! Teriak orang ramai.

Khubaib mengarahkan pandangannya ke langit sambil berdo’a: “Ya Allah! Hitunglah jumlah mereka! Hancurkanlah mereka semua, jangan sisakan seorang pun jua!

Tidak lama kemudian Khubaib menghembuskan nafasnya yang terakhir, sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka kerana tebasan pedang dan tikaman tombak yang tak terbilang jumlahnya.

Keberanian Khubaib, ketabahan, ketenangan menghadapi maut merupakan buah keimanan dan istiqamahnya dalam perjuangan. Ia telah memberi pelajaran yang perlu dijadikan pegangan hidup, iaitu:

1. Hidup yang sebenar ialah hidup beraqidah; kemudian berjuang mempertahankan aqidah itu sampai mati.

2. Keimanan yang telah terhunjam dalam hati seseorang dapat menimbulkan perkara-perkara ajaib dan luar biasa.

3. Orang yang paling dicintai Khubaib melebihi kecintaannya terhadap isteri dan anak-anaknya ialah sahabatnya, iaitu seorang Nabi yang dikukuhkan dari langit.

Allah telah berfirman ;

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata),”Janganlah kamu merasa takut dan jangan kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; didalamnya (Syurga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari Allah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS Fushilat .41: 30.32)

 
Copyright HIKMAH-BINTULU © 2008 Free Blogger Template By Cool Stuff Blog